<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Patumanya - My Life Begins Here &#187; Networking</title>
	<atom:link href="http://patumanya.com/category/networking/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://patumanya.com</link>
	<description>I Love To Press My Word...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 10:08:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tools Subnetting</title>
		<link>http://patumanya.com/tools-subnetting.htm</link>
		<comments>http://patumanya.com/tools-subnetting.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 09:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cisco]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[routing]]></category>
		<category><![CDATA[subnetting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://patumanya.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Melakukan penghitungan subnetting memang terkadang memiliki kesulitan tertentu. Untuk ruang lingkup pembelajaran, mungkin artikel saya mengenai belajar menghitung subnetting bisa membantu memahami konsep dan cara kerjanya.
Tetapi pada kenyataannya, banyak tersedia tools yang sifatnya sebagai pendukung mampu meringankan beban kerja engineer dalam melakukan subnetting. Di linux misalnya, dengan bantuan ipcalc kita bisa mengetahui ip broadcast, host [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melakukan penghitungan subnetting memang terkadang memiliki kesulitan tertentu. Untuk ruang lingkup pembelajaran, mungkin artikel saya mengenai <a title="belajar subnetting" href="http://patumanya.com/belajar-subnetting.htm" target="_blank">belajar menghitung subnetting</a> bisa membantu memahami konsep dan cara kerjanya.</p>
<p>Tetapi pada kenyataannya, banyak tersedia tools yang sifatnya sebagai pendukung mampu meringankan beban kerja engineer dalam melakukan subnetting. Di linux misalnya, dengan bantuan ipcalc kita bisa mengetahui ip broadcast, host min maupun host max, ip network, subnet mask dan lain sebagainya yang berkaitan dengan proses subnetting. Di windows ada aplikasi yang sering saya gunakan yaitu LanCalculator. Software-nya sederhana tapi cukup powerfull bagi saya dan yang istimewa lagi software ini gratis. Bagi kalian yang membutuhkan bisa langsung klik link dibawah ini.</p>
<p><a href="http://hotfile.com/dl/43272788/6bcad7e/lancalculator_setup.exe.html" target="_blank">LanCalculator</a></p>
<p>Dalam tahap pembelajaran, saya sarankan penggunaan tools hanya untuk mendukung saja. Kita bisa melakukan penghitungan subnetting secara pemahaman konsep dan kemudian menggunakan tools sebagai &#8220;kunci jawaban&#8221;.</p>
<p>Happy Networking!!  <img src="http://patumanya.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/26.gif" style="border:none;background:none;" alt=":linux2:" /></p>
<p><span style="font-size: x-small;">http://lantricks.com/lancalculator</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://patumanya.com/tools-subnetting.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Subnetting</title>
		<link>http://patumanya.com/belajar-subnetting.htm</link>
		<comments>http://patumanya.com/belajar-subnetting.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 15:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cisco]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[subnetting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://patumanya.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kalian yang sedang belajar subnetting, mungkin artikel ini bisa menjadi panduan belajar. Secara konsep, saya memahami subnetting sebagai tindakan efisiensi penggunaan ip address version 4.  Pada tahun 1993, IETF memperkenalkan CIDR (Classless Inter-Domain Routing). Kalau saya memahaminya adalah penentuan network address berdasarkan prefix (/24, /25, /26 dsb) bukan berdasarkan kelas (A, B, C) lagi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kalian yang sedang belajar subnetting, mungkin artikel ini bisa menjadi panduan belajar. Secara konsep, saya memahami subnetting sebagai tindakan efisiensi penggunaan ip address version 4.  Pada tahun 1993, IETF memperkenalkan CIDR (Classless Inter-Domain Routing). Kalau saya memahaminya adalah penentuan network address berdasarkan prefix (/24, /25, /26 dsb) bukan berdasarkan kelas (A, B, C) lagi. Belajar subnetting ini sangat berguna ketika kita berada di sebuah ISP, dimana efisiensi penggunaan ip address sangat penting sehingga dibutuhkan kemampuan untuk melakukan subnetting dengan baik.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu seorang teman menyodorkan sebuah alamat ip dan menanyakan berapa network dan broadcast address-nya. Sebagai bahan belajar, saya coba bahas disini.</p>
<p><span id="more-509"></span></p>
<p><strong>10.24.68.20 255.255.248.0 </strong></p>
<p>Kalo dijabarkan Subnetmask diatas ialah 11111111.11111111.11111000.00000000 atau /21<strong><br />
</strong></p>
<p>Yang bisa kita lakukan pertama kali ialah menghitung berapa jumlah subnet-nya. Caranya adalah menggunakan rumus <strong>2<sup>x</sup></strong> dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir (dalam hal ini dua oktet terakhir). Untuk contoh kasus diatas, bisa dihitung 2<sup>5</sup> = 32.</p>
<p>Untuk mengetahui berapa jumlah host yang bisa diakomodir oleh network tersebut, bisa dihitung menggunakan rumus <strong>2<sup>y</sup>-2</strong> dimana y adalah banyaknya binari 0 pada oktet terakhir (dalam hal ini dua oktet terakhir). Pengurangan terhadap nilai 2 didalam rumus dikarenakan alokasi untuk alamat network dan alamat broadcast. Untuk contoh kasus diatas, bisa dihitung 2<sup>11</sup>-2 = 2046</p>
<p>Untuk menentukan alamat network, yang saya pahami setidaknya ada dua 2 cara. Yang pertama dengan melakukan operasi AND dan yang kedua dengan mengetahui blok subnet. Saya akan bahas dulu cara yang kedua karena lebih mudah dan praktis dikesempatan lain mungkin akan saya bahas tentang operasi AND.</p>
<p>Mengetahui blok subnet bisa dengan rumus 256-nilai oktet terakhir subnet mask (dalam hal ini oktet ketiga). Dalam contoh kasus bisa dihitung 256-248=8. Jadi blok subnet-nya adalah kelipatan 8. 0, 8, 16, 24, 32 dst. Dalam contoh kasus bisa kita lihat, kelipatan 8 yang mendekati  68 adalah 64 dan 72. Berarti sudah bisa dipastikan alamat ip diatas memiliki data-data sebagai berikut :</p>
<p><strong>network address = 10.24.64.0</strong></p>
<p><strong>first host = 10.24.64.1</strong></p>
<p><strong>last host = 10.24.71.254</strong></p>
<p><strong>broadcast address = 10.24.71.255</strong></p>
<p>Masih bingung? Gapapa..namanya juga belajar  <img src='http://patumanya.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt=':cool:' class='wp-smiley' /><br />
Silahkan manfaatkan kolom comment untuk berdiskusi. Happy Networking!!  <img src="http://patumanya.com/wp-content/plugins/kaskus-emoticons/emoticons/smiley_beer.gif" style="border:none;background:none;" alt=":beer:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://patumanya.com/belajar-subnetting.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Static Routing</title>
		<link>http://patumanya.com/static-routing.htm</link>
		<comments>http://patumanya.com/static-routing.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 20:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cisco]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[directly connected]]></category>
		<category><![CDATA[exit interface]]></category>
		<category><![CDATA[next hop]]></category>
		<category><![CDATA[routing]]></category>
		<category><![CDATA[static]]></category>
		<category><![CDATA[static routing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://patumanya.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Menambahkan remote network ke dalam routing table bisa melalui kedua cara berikut, yaitu melakukan konfigurasi static routing dan atau mengaktifkan protokol dynamic routing. IOS mempelajari remote network dan  interface yang akan digunakan untuk mencapai suatu tujuan jaringan lalu kemudian menambahkannya kedalam routing table selama interface tersebut berada dalam keadaan aktif (enabled).
Ada beberapa kondisi yang tepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menambahkan <em>remote network </em>ke dalam <em>routing table</em> bisa melalui kedua cara berikut, yaitu melakukan konfigurasi <em>static routing </em>dan atau mengaktifkan protokol <em>dynamic routing</em>. IOS mempelajari <em>remote network </em>dan  <em>interface </em>yang akan digunakan untuk mencapai suatu tujuan jaringan lalu kemudian menambahkannya kedalam <em>routing table </em>selama <em>interface </em>tersebut berada dalam keadaan aktif (<em>enabled</em>).</p>
<p>Ada beberapa kondisi yang tepat mengenai kapan penggunaan konfigurasi <em>static routing,</em> antara lain dalam contoh kasus <strong>sebuah jaringan yang terdiri dari sedikit router.</strong> Penggunaan <em>static routing </em>di dalam sebuah jaringan  seperti ini dinilai tepat, tugas administrator tidak terlalu berat. Justru penggunaan <em>dynamic routing </em>tidak dibutuhkan karena tidak memiliki keuntungan yang berarti bahkan bisa menyebabkan <em>overhead</em>. <strong>Jaringan yang terhubung ke internet hanya melalui satu ISP </strong>tidak diperlukan menggunakan protokol <em>dynamic routing </em>karena bisa dipastikan jaringan tersebut hanya memiliki satu-satunya jalur keluar, sehingga cukup dikonfigurasi dengan <em>static routing</em>.<span id="more-457"></span></p>
<p>Berikut ini adalah contoh konfigurasi <em>static routing </em>:</p>
<p><a href="http://patumanya.com/wp-content/uploads/2010/03/static-routing2.jpg" target="_blank"><img class="alignnone size-medium wp-image-470" style="border: 2px solid black;" title="static-routing" src="http://patumanya.com/wp-content/uploads/2010/03/static-routing2-300x110.jpg" alt="" width="482" height="180" /></a></p>
<p>Sebelum melakukan konfigurasi, ada baiknya melihat <em>routing table</em> pada masing-masing <em>router</em> terlebih dahulu dengan menggunakan perintah <code>show ip route .<br />
</code></p>
<blockquote>
<pre><code>R1#show ip route</code>
C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, FastEthernet0/1

<code>R2#show ip route</code>
C    192.168.2.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.3.0/24 is directly connected, Serial0/0/1

<code>R3#show ip route</code>
C    192.168.3.0/24 is directly connected, Serial0/0/1
</pre>
</blockquote>
<p>R1 sudah memiliki <em>routing table </em>yang memberikan informasi bahwa telah terhubung secara langsung dengan jaringan 192.168.1.0 dan 192.168.2.0 . R2 telah terhubung langsung dengan jaringan 192.168.2.0 dan 192.168.3.0 . R3 telah terhubung secara langsung dengan jaringan 192.168.3.0 . Status C diawal baris menyatakan <em>directly connected.</em> Agar <em>end device </em>yang ada di jaringan 192.168.1.0 dapat melakukan <code>ping</code> terhadap R3 dan sebaliknya, maka <em>routing table </em>harus diperbarui dengan cara melakukan konfigurasi <em>static routing </em>sebagai berikut :</p>
<blockquote>
<pre><code>R3#configure terminal</code>
<code>R3(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 192.168.3.1
R3(config)#end</code>

<code>R1#configure terminal
R1(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 FastEthernet 0/1
R1(config)#end</code>

<code>R2#configure terminal
R2(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 FastEthernet 0/0
R2(config)#end</code></pre>
</blockquote>
<p>Di R3 ditambahkan <em>route</em> menuju 192.168.1.0 melalui <em>next hop </em>192.168.3.1 . Di R1 ditambahkan <em>route </em>menuju 192.168.3.0 melalui <em>exit interface </em>FastEthernet0/1 . Di R2 ditambahkan <em>route </em>menuju 192.168.1.0 melalui <em>exit interface </em>FastEthernet0/1 .</p>
<p>Untuk sementara segitu dulu yang bisa saya bagi. Semoga bisa bermanfaat paling tidak sebagai arsip bagi diri sendiri  <img src='http://patumanya.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt=':cool:' class='wp-smiley' />   Happy Networking!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://patumanya.com/static-routing.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Layer Transport</title>
		<link>http://patumanya.com/peranan-layer-transport.htm</link>
		<comments>http://patumanya.com/peranan-layer-transport.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 03:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cisco]]></category>
		<category><![CDATA[Networking]]></category>
		<category><![CDATA[layer 3]]></category>
		<category><![CDATA[multiplexing]]></category>
		<category><![CDATA[port number]]></category>
		<category><![CDATA[segmentasi]]></category>
		<category><![CDATA[transport layer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://patumanya.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan saya kali ini agak mengarah ke materi jaringan komputer. Ya..karena dalam beberapa bulan terakhir saya coba mendalami bidang Cisco Networking dan insya Allah berkesempatan meraih Cisco Certified Network Associate pada awal Februari mendatang. Tulisan ini bisa jadi sebagai review agar mengingatkan saya mengenai materi-materi selama saya belajar  di  akademi Cisco atau bisa juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan saya kali ini agak mengarah ke materi jaringan komputer. Ya..karena dalam beberapa bulan terakhir saya coba mendalami bidang Cisco Networking dan insya Allah berkesempatan meraih Cisco Certified Network Associate pada awal Februari mendatang. Tulisan ini bisa jadi sebagai <em>review </em>agar mengingatkan saya mengenai materi-materi selama saya belajar  di  akademi Cisco atau bisa juga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan.</p>
<p><em>Layer transport</em> atau yang lebih sering dirujuk sebagai layer 4 pada model OSI, menyediakan segmentasi data dan kontrol yang dibutuhkan untuk menyusun kembali potongan-potongan tersebut menjadi berbagai macam arus komunikasi.</p>
<p>Segmentasi di dalam <em>transport layer </em>berarti kita dimungkinkan untuk mengirim dan menerima data ketika komputer menjalankan lebih dari satu aplikasi secara bersamaan. Dengan membagi data menjadi potongan-potongan kecil dan baru kemudian mengirim potongan-potongan tersebut ke tujuan maka memungkinkan komunikasi menjadi <em>multiplexing </em>di dalam suatu jaringan yang sama.</p>
<p>OSI Layer 4 berperan mengidentifikasi aplikasi, sangat memungkinkan sekali bagi kita menggunakan komputer untuk melakukan tugas menerima dan mengirim email, menggunakan <em>instant messaging</em>, membuka halaman <em>web</em> atau bahkan menerima panggilan VoIP secara bersamaan. Pernahkah terpikirkan bahwa data dari VoIP justru masuk ke halaman <em>web</em> atau tulisan dari <em>instant messaging </em>nyasar masuk ke email? Disinilah OSI Layer 4 berperan. OSI Layer 4 memberikan penanda terhadap sebuah aplikasi yaitu yang dikenal dengan istilah <em>port number</em>. <em>Port number</em> digunakan didalam <em>transport layer header </em>untuk mengidentifikasi aplikasi mana yang berhubungan dengan data tersebut sehingga data bisa sampai ke aplikasi yang tepat.</p>
<p>Sebagai tulisan pembuka rasanya teori-teori diatas sudah cukup. Pada kesempatan lain insya Allah dibahas lebih dalam lagi <img src='http://patumanya.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://patumanya.com/peranan-layer-transport.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
